Sudah Tahu Makna Manisan Kotak Segi Delapan Khas Imlek Ini?

Tahun Baru Imlek akan segera datang, perayaan Imlek identik dengan rasa syukur, harapan, dan kebersamaan dengan orang-orang yang dicintai. Tradisi masyarakat Tionghoa memaknai segala bentuk kebaikan di tahun baru Imlek melalui makanan menjadi hal yang paling menarik.

1. Manisan segi delapan yang selalu ada
Salah satu makanan yang selalu ada saat Imlek adalah manisan segi delapan. Kotak bersekat-sekat berbentuk segi delapan ini diisi dengan berbagai makanan. Mulai manisan buah, permen, hingga kacang. Bukan sekedar camilan, ternyata manisan segi delapan ini punya makna khusus bagi masyarakat Tionghoa, lho.

2. Tiap isinya memiliki makna
Dalam tiap sekat, kotak segi delapan ini diisi berbagai makanan yang dominan rasa manis. Bukan asal makanan manis, lho. Lalu, apa saja isinya?

  • Manisan melon, melambangkan kesehatan dan perkembangan hidup.
  • Jeruk kumquat, melambangkan kemakmuran dan emas.
  • Kelapa kering atau kelapa segar, melambangkan persatuan dan persahabatan.
  • Kelengkeng, melambangkan banyak anak.
  • Biji teratai, melambangkan kesuburan.
  • Buah leci, melambangkan ikatan keluarga yang kuat.
  • Kacang tanah, melambangkan doa agar panjang umur.
  • Semangka merah, melambangkan kebahagiaan dan kejujuran.
  • Isian dalam kotak manisan ini tidak mutlak, bisa menyesuaikan dengan makanan lain yang melambangkan kemakmuran dan keberuntungan. Misalnya akar teratai, wortel atau winter melon.

3. Makna angka delapan bagi masyarakat Tionghoa
Tradisi Tionghoa mempercayai tiap angka membawa maknanya masing-masing. Bagi masyarakat Tionghoa, angka delapan melambangkan keberuntungan. Oleh karena itu, manisan kotak segi delapan diibaratkan sebagai simbol mengawali tahun baru dengan penuh keberuntungan. Makanan ini juga biasa disebut dengan "Tray Of Togetherness". Sebab, beberapa makanan pengisinya adalah manisan-manisan yang cukup sulit ditemukan. Gak heran kalau banyak orang lebih suka membeli makanan yang dikemas dan sudah jadi, ketimbang menyusunnya sendiri.

Source: www.idntimes.com